|| nuli bakal lair | sawijining manungsa kang linuwih, kapilih | kang miwiti uripe nyarira batur najis | nanging ing titiwancine piyambake bakal madeg raja tinresnan | kang bakal kalebu ati marang kawulane nganti salawase...

|| dan kelak akan lahir | satu manusia yang dipilih | yang mengawali kehidupannya sebagai budak hina | namun kemudian menjadi raja | yang dikenang sepanjang waktu...

Senin, 18 Juli 2011

Laki-laki yang Menepis Kematian


Ruangan ini seperti telah memerangkapnya!
Walau ruangan sempit dengan tembok hitam legam ini jarang digunakan, namun tetap saja bau kematian tercium jelas di sini. Ini adalah ruang penjara di residen. Letaknya memang tersembunyi di bawah tanah, di bagian paling belakang dari residen tersebut.
Luasnya tidaklah terlalu besar. Hanya terdiri dari 2 ruangan berterali berukuran sedang dan sebuah ruangan sempit, khusus untuk penjahat-penjahat istimewa. Seperti di mana Untung berada saat ini.
Dulu, lelaki itu, yang biasa dipanggil dengan nama Untung, sudah pernah melihat ruangan ini sebelumnya. Tapi ia sama sekali tak pernah menyangka bila sekarang ia akan menjadi salah satu penghuninya. Ia tahu sudah berapa banyak penjahat yang mati di sini. Ia bahkan pernah membantu para marechaussee’ mengeluarkan mayat dan menguburnya, hingga beberapa kali.
Dan kini ia ada di sini! Ini terasa begitu mengerikan. Di pojok ruangan masih terlihat bekas darah yang tak dibersihkan. Kekentalannya masih bisa terlihat di keremangan ruangan ini. Semut-semut merah, yang ukurannya lebih besar dari biasanya, tak pernah selesai menghabiskan darah-darah itu. Penghuni-penghuni sebelumnya pastilah merasakan juga apa yang kini dirasakan oleh Untung. Maka itulah untuk mengurangi bau amis yang menusuk, mereka terpaksa menutupi dengan air kencing mereka. Tapi itu ternyata tak berpengaruh banyak. Air kencing dan darah ternyata merupakan senyawa yang bertalian, sebuah kerabat dekat. Maka bau amis pun akan berubah menjadi bau pesing yang paling menyengat!
Tak sampai di situ, di bagian langit-langit ruangan, terlihat beberapa laba-laba yang terus memperhatikan Untung. Matanya yang besar dan nampak berkilau merah nampak sangat menakutkan di kegelapan seperti ini. Terlebih tanpa takut-takut, mereka kerap turun ke bawah dengan jaringnya, seakan ingin memperhatikan sosok yang ada di bawah mereka lebih dekat.
Dan Untung hanya bisa memejamkan matanya kuat-kuat untuk semua itu. Kini, ia tak lagi bisa bergerak. Tubuhnya masih merasakan rasa perih yang tak berkesudahan. Tadi sewaktu ia dibawa kemari, para marechaussee’ sudah memukulinya hingga ia terpuruk kesakitan.
Setelah itu, siksaan seperti tak pernah habis meradang ditubuhnya. Tak hanya pukulan dan tendangan yang mendera tubuhnya, tapi juga cambukan! Mijnheer Moor bahkan melakukan sendiri padanya.
“Budak tak tahu diri, jadi ini balas budimu pada ik, heh?” ia menjambak rambut Untung.
Dan Untung hanya meringis kesakitan. “Ma... af… mij… nheer… ” ujarnya terpatah-patah di antara darah yang mengalir dari mulutnya.
Tapi apa artinya kalimat itu bagi Mijnheer Moor sekarang? Ia telah begitu murka. Selama ini ia merasa sudah sangat mengistimewakan Untung. Ia mengajaknya menonton sirkus, mengajarinya menembak dan melonggarkan pekerjaannya, agar dapat sekedar bermain-main dengan putrinya.
Sungguh, ia merasa Untung telah menikam dirinya dari belakang. Maka dengan kemarahan yang tak pernah reda, sudah diambilnya sebilah belati dari samping pinggangnya, lalu dengan gerakan kilat ditusukkannya pada lambung Untung.
“Aaaarch…” Untung hanya bisa kembali berteriak. Namun pisau yang telah menancap itu tak langsung dicabut Mijnheer Moor.
“Kau tahu apa hukuman bagi seorang penghianat?” desisnya sembari memutar-mutar belatinya dengan pelan.
Dan Untung tentu saja tak bisa menjawab pertanyaan itu. Hanya teriakannya yang menyayat menyeruak di ruangan pengap itu, menembus dinding-dindng penyekat, membuat penjahat-penjahat lain yang ada di ruangan-ruangan sebelahnya bergidik ketakutan.
Sungguh, saat itu Untung merasa kematiannya telah begitu dekat padanya. Kesakitan seperti ini tak pernah dirasakannya, walau ia telah bertahun-tahun hidup di penampungan budak sekali pun. Maka itulah ia berkali-kali tak sadarkan diri, dan berharap, tak lagi sadar setelah itu…
Beberapa penjahat yang sejak tadi hanya diam, dengan bulu kuduk yang terus merinding, mencoba ke bibir terali, untuk melihat lebih jelas sosok yang mereka anggap akan mati sebentar lagi.
“Apa yang sudah dilakukannya? Hingga penyiksaannya begitu kejam?” seorang penjahat bertanya pada yang lain.
Namun tak ada yang bisa menjawabnya.

*****
Untung kembali bangun saat mendengar suara-suara bergema di situ.
Awalnya ia menyangka bila tahanan-tahanan di ruang sebelah yang kembali mencoba mengajaknya bicara, tapi dugaan itu ternyata salah. Suara itu ternyata berasal dari ujung ruangan yang tak terlihat olehnya. Dan suara itu ternyata adalah… suara seorang perempuan!
Untung tertegun untuk sesaat. Ia seperti sangat mengenal suara itu. Maka ia pun segera mencoba bangkit di antara darah kering disekujur tubuhnya. Namun ia ternyata tak lagi memiliki kekuatan untuk itu. Maka di tengah kesenyapan itu, ia hanya bisa mencoba mendengar suara-suara itu…
“Kau membantahku?” suara perempuan itu terdengar samar-samar dikejauhan.
Untung tertegun. Jelas sekali bila itu… adalah suara Suzanne. Ia begitu mengenalnya. Maka seakan mendapat kekuatan baru, ia berusaha bangkit.
“Ini perintah Mijnheer, Jufrouw! Ia akan digantung esok pagi, jadi tak ada seorang pun yang boleh menengoknya!” suara lain terdengar.
“Dengar, vader akan menghukumnya esok,” suara Suzanne kembali terdengar keras. “Maka aku ingin menemuinya untuk terakhir kali…”
“Tapi, Juffrouw, aku… tak bisa. Mijnheer akan menghukumku…”
“Vader tak akan tahu,” ujar Suzanne lagi. “Aku hanya ingin memberikannya makanan ini untuk terakhir kalinya…”
Lalu untuk beberapa saat tak ada suara tanggapan lagi dari ucapan itu, Selain hening yang ada.
“Baiklah, juffrouw, tapi hanya sebentar saja!” ujar suara itu tak lama kemudian.
Lalu dari balik terali besinya, Untung mulai mendengar suara langkah-langkah kaki mendekat padanya. Sosok Suzanne tak lama kemudian muncul dihadapannya. Ia segera berlari mendekat, namun terali besi menghalangi mereka.
“Kakak,” suara Suzanne terdengar tercekat.
“Engkau… datang, Suzanne,” Untung mencoba tersenyum. Namun bibirnya tak cukup kuat tertarik.
Mata Suzanne seketika berkaca-kaca, begitu melihat pasungan pada tangan Untung. Terlebih saat ia juga melihat luka-luka yang ada pada seluruh tubuh Untung.
“Vader… melakukan ini padamu?” Sungguh, Suzanne tak pernah menyangka ayahnya akan setega ini melakukan penyiksaan terhadap Untung. Air matanya tak bisa dihalangi lagi jatuh dari pelupuk matanya.
“Jangan menangis,” ujar Untung. “Aku… tak apa-apa…”
Suzanne menyeka air matanya. Ia berusaha nampak kuat. Namun ketika matanya kembali menatap luka-luka yang begitu dalam, ia benar-benar tak mampu menahan air matanya.
“Ik mis jou…” ia hanya bisa berujar pelan sambil menjulurkan salah satu tangannya ke dalam sel untuk menyentuh wajah Untung.
“Juffrouw Suzanne,” suara marechaussee’ yang ternyata sejak tadi berdiri tak jauh di belakang Suzanne, terdengar menyela. “Juffrouw berjanji hanya akan mengantarkan makanan itu!”
Suzanne menoleh, “Ya, tentu saja.” Lalu sambil kembali menghapus air matanya, ia segera memberikan mangkuk makanan yang sedari tadi dipegangnya, melalui celah di bawah terali.
“Aku membuatkan kakak sup,” ujarnya terisak. “Makanlah ini hingga benar-benar habis, malam ini. Rasanya yang begitu nikmat seakan membawa kakak menuju Jembatan China…”
“Juffrouw!” suara marechaussee’ itu kembali terdengar dengan sedikit menghardik.
Suzanne mulai bangkit sambil kembali menyeka air matanya. “Aku pergi,” ujarnya sambil menatap untuk terakhir kalinya pada Untung. “Jaga diri kakak baik-baik!”
Lalu sebelum Untung berucap apa-apa lagi, Suzanne sudah berlalu dari situ. Sesaat ia hanya bisa terpaku menatap kepergian Suzanne meninggalkan aroma wangi yang biasa dipakainya. Dan kini, Untung seakan tak ingin menghirupnya secara berlebihan, karena ia tak ingin aroma ini hilang darinya.
Untung kembali terpuruk ke dalam keheningan ruangannya. Tubuhnya seketika kembali lunglai, seakan kekuatannya begitu saja hilang. Yang bisa dilakukannya hanya memandangi mangkuk sup yang ada didekatnya. Tiba-tiba ia kembali teringat ucapan Suzanne…
Aku membuatkan kakak sup. Makanlah ini hingga benar-benar habis, malam ini. Rasanya yang begitu nikmat seakan membawa kakak menuju Jembatan China…
Untung tertegun. Entah mengapa, saat itulah ia baru merasakan kejanggalan ucapan itu. Maka ia pun segera menyendok sup itu dengan gerakan perlahan.
Dan saat itulah ia tertegun. Di antara sayuran-sayuran yang menutupi sup itu, dilihatnya beberapa kunci ada di situ!

*****
Untung mencoba bermeditasi. Beberapa tahun menjadi murid Ki Tembang Jara Driya, ia telah bisa mengalirkan energinya dengan baik ke seluruh tubuhnya. Sebenarnya ia telah melakukan sejak penyiksaan itu dimulai. Maka itulah ia masih bisa hidup sampai sekarang. Kini bahkan darah yang semula tanpa henti mengalir dilambungnya, seakan terhenti oleh desakan enegi murninya. Maka hanya sampai menjelang malam, ia merasakan perih ditubuhnya, sedikit berkurang.
Saat itulah ia kemudian, memutuskan untuk melarikan diri!
Dengan gerakan hati-hati, mulai dikeluarkannya kunci-kunci yang disembunyikannya di salah satu celah tembok ruangannya. Jumlahnya ada sekitar 10 kunci, dan ini pastilah kunci yang dipakai di seluruh ruangan ini. Nampaknya Suzanne tak mau mengambil resiko memberikan kunci yang salah.
Maka Untung pun segera memilih kunci untuk membuka pasungannya. Setelah itu, barulah ia beranjak membuka gembok ruangannya. Sedikit ia meringis, saat lambungnya masih terasa perih terkena gesekan tubuhnya. Tapi Untung berusaha menahannya.
Sesaat, ia mencoba merasakan suara yang ada disekitarnya. Hanya suara dengkur yang bersahutan terdengar dari sel-sel lainnya. Namun suara itulah yang kemudian membuat Untung memutuskan untuk membebaskan tahanan-tahanan lainnya.
“Stttt,” ia mulai membuka salah gembok di pintu berterali itu satu demi satu. “Keluarlah kalian!”
Beberapa orang yang semula tertidur lelap, mulai terbangun satu demi satu. Dalam kondisi temaram, dan belum sepenuhnya tersadar, mereka langsung dapat menduga apa yang kini tengah terjadi.
Maka mereka semua mulai mengendap-endap keluar dari ruangan mereka. Semula Untung tak menyadari berapa banyak jumlah orang yang ada di situ, namun ketika semuanya telah terbangun, dan mulai beranjak ke arah koridor, baru disadarinya kalau jumlahnya cukup banyak. Mencapai 40 orang lebih.
Maka tak bisa dihindari lagi, orang sebanyak itu di dalam ruangan yang sesempit ini dengan penerangan yang begitu temaram, mau tak mau akan menimbulkan juga suara hiruk pikuk yang tertahan. Inilah yang lama kelamaan membuat seorang marechaussee’ yang berjaga, tersadar.
“Tawanan kabuuuur!’ ia berteriak memecah keheningan.
Dari satu suara ini saja, gemanya langsung memenuhi seluruh ruangan, membuat para marechaussee’ yang lain segera terjaga dan menyiapkan senapannya.
“TAWANAN KABUUUUR!” seorang marechaussee’ yang lain kembali berteriak.
Namun sebelum mereka semua benar-benar mengarahkan senapannya, beberapa tahanan yang nampaknya menguasai bela diri segera melompat dan menubruk para marechaussee’ tersebut. Lalu dengan gerakan cepat, mereka segera mematahkan leher para marechaussee’ itu.
Para tawanan semakin merangsek ke luar. Kini dengan bekal beberapa senapan yang berhasil direbut sebelumnya, para tawanan berusaha menembak para marechaussee’ yang mencoba menghalangi.
Pertempuran kecil tak bisa dihindari terjadi di gerbang penjara. Para marechaussee’ yang berjaga di depan gerbang langsung menyambut mereka dengan peluru. Terlebih para marechaussee’ yang ada di atas menara.
Beberapa tahanan seketika rubuh terkena pelor panas. Untung yang menyadari itu segera mengambil tindakan cepat. Dengan lompatan ringan bertumpu dinding benteng, ia segera melompat ke arah menara. Sesekali ia mencoba menghindar, dari bidikan senapan para marechaussee’ tersebut.
Karena bentuk menara yang tak terlalu tinggi, hanya dengan dua kali lompatan lebar, Untung dapat sampai di atas menara dan menaklukkan para marechaussee’ yang ada di situ.
Tindakan itu benar-benar membuat para tahanan segera meluapkan semangatnya. Terlebih saat Untung melemparkan beberapa senapan ke bawah, mereka semakin nampak bersemangat. Mereka tak tahu bila di balik semua itu, Untung kembali memegang lambungnya yang kembali mengeluarkan darah.
Tapi para tahanan sudah terlanjur bersemangat. Mereka terus merangsek ke depan dengan nekad, seakan tak lagi mementingkan nyawa mereka. Langsung diserbunya para marechaussee’ yang tak henti menembaki mereka.
Untung terus memimpin di depan. Sesekali ia membuang matanya di kejauhan, menatap hutan gelap di depannya. Saat itu ia sudah berpikir akan melarikan diri ke sana.
Kelak dari hutan itulah langkah awal baginya menjadi momok paling menakutkan bagi kompeni, hingga puluhan tahun ke depan…

*****

Catatan
Kapiten : Kapten
Lieve schat (bahasa Belanda) : sayang
Vader (bahasa Belanda) : ayah
Mijnheer (bahasa Belanda) : menir, tuan
Juffrouw (bahasa Belanda) : nona

Jumat, 17 Juni 2011

Launch 3 Pendekar di Pro 2 Jogja

Pada tanggal 8 Juni 2011, bersama Kang Nassirun Purwokartun (penulis Penangsang), Bapak Daryanto (penulis Penembahan Senapati), kami berangkat ke Jogja untuk bedah buku di RRI Pro 2. Karena semuanya penulis sejarah maka tajuk di acara itu adalah '3 pendekar dari Solo'.

Dari TS ada Mas Gerry, dan Mbak Wendri. Mas Andri menyusul di Jogja bersama Pak Daryanto. Kami berangkat sejak jam 16.30 dengan mobil dinas TS.

Acara lebih dari 1,5 jam berlangsung seru. ada 3 pertanyaan by phone dan hampir 19 sms yang masuk. Mbak Lulu membawakan acara dengan sangat manis... ;)

Pulangnya kami sempat mampir ke Raminten dan memesan es kelapa muda yang sebesar gentong, dan es dawet yang sebesar piala champion. sampai pulang mas sopir gak berenti2nya tertawa... :)

Rabu, 08 Juni 2011

Untung Surapati dalam Uraian Yudhi Herwibowo

Dan, embusan angin memeradukan tetes-tetes air di atas daun-daun.
Lalu menyatu satu demi satu, lalu bergulir jatuh....


Buku bertema sejarah sepertinya bukan favorit saya
Andai saya mau membaca buku sejarah, walau dibuat menjadi roman sejarah tak lain karena faktor penulisnya. Jika bukan Mas Yudhi, belum tentu buku ini saya lirik. Bukan tidak menghormati pahlawan, tapi memang saya bukan penyuka bacaan sejarah. Saya hanya penyuka karya mas Yudhi yang kebetulan kali ini menulis roman sejarah

Untuk buku kali ini Mas Yudhi mengambil sosok Untung Suropati . Untung Suropati lahir di Bali sekitar tahun 1660 , wafat di Bangil, Jawa Timur pada 5 Desember 1706). Tidak ada yang tahu siapa orang tuanya secara jelas. Dalam buku ini disebutkan ia merupakan anak dari I Gusti Ngurah Jalantik. Saat mengungsi ke daerah barat anak keduanya terpisah dari rombongan. Untung kecil ditemukan oleh para pedagang budak. Ia diberi nama si kurus .

Sejak memiliki si kurus sebagai budak, karier dan kekayaan Moor meningkat pesat. Bahkan Moor selamat dari berbagai bahaya. Maka sejak itu si kurus dipanggil Untung. Awalnya Untung, Pande dan Suzane bersahabat erat. Namun sejak Pande memutuskan untuk melarikan diri, hubungan Untung dan Suzane berkembang kearah yang tak terduga.

Tanpa memikirkan resiko dan pandangan masyarakat, seorang anak perempuan petinggi Belanda menjalin kasih dengan bekas budak. Sungguh hal yang memalukan saat itu! Moor sangat marah! Ia menjebloskan Untung ke penjara. Namun dengan bantuan Suzane, Untung berhasil melarikan diri dan mengajak tahanan lainnya.

Berkat ilmu kanuragan yang dipelajarinya dari Ki Tembang, Untung mampu bertahan melawan pasukan yang mengejarnya. Ki Tembang sendiri sudah pernah memberikan peringatan kepada Untung untuk menjauhi Suzane. " Selain itu, ada baiknya engkau ... engkau mencoba menjaga jarak dengan putri majikanmu itu. Kupikir, ini akan baik untuk semuanya ... Tapi, kadang perasaan yang bergerak dari hati kita, sama sekali tak lagi bisa kita halangi ...." Tapi begitulah cinta, siapa yang bisa menolak saat ia melebarkan pesonanya....

Untung dan kawan-kawannya melarikan diri hingga berada di Tanah Mati. Mereka membentuk pasukan dan mulai menjalankan misi mengusir Belanda agar bisa hidup layak di tanahnya sendiri. Mereka mulai melakukan perampokan pada rombongan VOC yang melewati daerahnya. Mereka dikenal dengan sebutan Begal dari Tanah Mati

Walau bagaimana jua....
Kenangan akan cinta selalu membayang-bayangi setiap langkah seseorang
Bahkan langkah seorang Untung sekali pun
Hingga ia harus berhadapan dengan sebuah pilihan
Berkhianat atas nama cinta

atau.....

Bertahan dan meredam cinta
Tentang hati....
Memanglah tak bisa sesederhana itu


Sedikit sekali yang memahami siapa sosok Untung sesungguhnya, buku ini memberikan gambaran yang lebih lengkap mengenai Untung Suropati,yang karena semangat juangnya ditetapkan sebagai pahlawan nasional Indonesia berdasarkan S.K. Presiden No. 106/TK/1975 tanggal 3 November 1975.

Misalnya saja nama Surapati yang berada di belakang namanya. Surapati merupakan gelar yang diberikan oleh Sultan Cirebon kepada Untung. Untung dan pasukannya membantu Sultan Cirebon menghancurkan keberadaan pos VOC yang dinilai makin menggerogoti kewibawaan kesultanan. Sayangnya aksi tersebut mengusik Raden Surapati, anak angkat sang sultan. Ia tak mengira apa yang dilakukan Untung berdasarkan permohonan ayahandanya. Ia mempermalukan Untung di hadapan orang banyak dengan menuduhnya sebagai gerombolan perampok!

Hal ini jelas membuat sultan sangat murka dan ganti mempermalukannya tanpa sengaja di hadapan orang banyak. Sakit hati, kembali membuat Raden Surapati menyusun sebuah siasat untuk menghabisi Untung. Disewanya pendekar bayaran untuk membunuh Untung. Saat siasatnya terlihat tak berhasil ganti ia membunuh para pendekart bayaran. Tapi kedoknya sudah terlebih dahulu terbuka! Ia dihukum mati atas semua tindakannya. Sebagai ungkapan penyesalan dan tanda terima kasih atas penghancuran pos VOC, Untung diberi gelar Surapati. Seterusnya ia dikenal dengan nama Untung Surapati.

Terus terang saya membutuhkan waktu lama membaca buku ini, sekitar 3 hari! Masalahnya bukan pada kisah yang dituturkan, namun banyak sekali nuansa sejarah yang dipaparkan dengan teramat sangat mendetail. Bagi saya yang tidak menyukai sejarah sungguh menyiksa! Kepala saya jadi terasa cenyut-cenyut meminjam judul sebuah lagu. Buku yang berat! Ingin rasanya saya lewati halaman yang memaparkan sebuah data sejarah. Tapi jika saya lewati tentunya saya tidak bisa mengerti runtutan sebuah peristiwa. Dilema.....!

Walau bagaimana banyaknya nuansa sejarah yang dipaparkan buku ini masih juga mengusung ciri seorang Yudhi. Simak saja kalimat berikut, " Lalu, sebuah perulangan terus terjadi. Bunga yang tumbuh, menguncup, bermekaran, layu kemudian mati. Lalu, kembali tumbuh, untuk menguncup lagi, bermekaran lagi, layu lagi, kemudian kembali mati...... Seiring iring-iringan burung-burung bangau yang masih membelah angkasa secara teratur dan kecipakan ikan yang memainkan nada-nada gembira di sepanjang sungai..."

Ciri lain terlihat pada penamaan bab yang ada dalam buku ini, Perempuan yang Menangis Bersama Rembulan, Sebuah Ikatan di Ujung hari, Dukungan Penuh Gelora, Kabar yang Mengoyak Jiwa, Perempuan Bermata Bunga, Selingkar Cincin Berukir Daun Bertaut, Lelaki yang Menepis Kematiannya, atau Pertemuan di bawah Jejatuhan Daun. Benar-benar bernuansa seorang Yudhi

Syukur banyak cerita segar yang memberi saya kekuatan dalam menuntaskan buku ini. Misalnya saja aneka makanan yang diuraikan dengan bersemangatnya pada halaman 299. Saya jadi merasa berada di Solo. Mungkin saja makanan tersebut justru tidak bisa ditemui di Solo, namun menyebutkan makanan khas daerah Jawa selalu membuat saya merasa rindu pulang ke Solo.

Informasi seputar tokoh yang di tuangkan dalam bagian yang diberi judul karakter sangat membantu saya memahami cerita. Dengan banyaknya tokoh yang berada dalam buku ini, kadang saya sering lupa. Untuk mengatasinya saya tinggal kembali ke bagian awal dan menyegarkan ingatan saya. Gampang dan sangat membantu.

Tembang yang ada, mengingatkan saya pada para eyang kakung. Dahuku saya sering mendengarkan beliau berdua menembang. Jangan tanya saya apa artinya, apa lagi maknanya.Sebagai anak yang dilahirkan dan dibesarkan di Jakarta, kemampuan Bahasa Jawa saya jelas jauh dibandingkan dengan Dion. Apa lagi dahulu saya suka menjaga jarak jika harus berhadapan dengan para eyang, maklum aturannya bisa membuat keringat dingin. Tapi, setiap kali alunan tembang terdengar, saya selalu merasakan suasana nyaman. Lingkungan sekitar terasa berbeda. baru belakangan saya memahami apa isi tembang yang sering mereka dendangkan.

Sesuai prinsip saya, setiap buku yang dibaca harus diselesaikan bagaimana juga.
Setiap buku yang diberikan sebagai hadiah HARUS direview bagaimana juga caranya....! SEMANGAT!

Semoga repiu ala kadarnya tidak terlalu mengecewakan

nuli bakal lahir
sawijining manungsa kang linuwih, kapilih
kang miwiti uripe nyarina batur najis
nanging ing titiwancine piyambake
bakal madeg raja tinresnan
kang bakal kalebu ati marang kawulane
nganti salawase


Ssst Mas Yudhi sudah bisa menulis status di FB sekarang………….?

Review Untung Surapati dari Senda Irawan di Komunitas Baca Buku

Untung Surapati, sebuah nama yang mungkin tidak banyak dikenal atau bahkan dilupakan oleh banyak orang. Sifat begalnya membuat ia tidak tercantum di buku sejarah kebanyakan dan karena inilah penulis kemudian membuat sebuah roman untuk Untung Surapati.
Dalam roman ini penulis membagi cerita dalam tiga fase kehidupan, yang pertama adalah fase Batavia dimana Untung kecil kemudian lahir dan hidup menjadi budak di salah satu petinggi VOC. Yang kedua adalah fase Kartasura, dimana Untung membangun kekuatan kembali dan membuat benteng di Babarong bersama dengan anak buah dan warga sekitar dan fase ketiga adalah fase pelarian terakhir yang diberi title oleh pengarang: Pasuruan.
Penulis memulai sebuah cerita dengan rekaman sejarah, bagian yang biasa dilakukan beberapa penulis yang terikat dengan cerita. Begitupun dengan roman ini, meski sedikit bertele-tele, namun ada ragam informasi berharga yang bisa mengantarkan kita ke tengah-tengah cerita.
Pada fase cerita awal, sedikit membosankan karena kehidupan Untung Surapati hanya seputar rumah, pasar dan kehidupannya sebagai budak. Meski begitu ada bagian-bagian yang menarik yang disajikan oleh penulis, terutama saat Untung dan Pande menjebak prampok.
Selain itu ada kisah tentang Untung yang berguru dengan Ki Tembang. Dari sini tergambar dengan cukup jelas, bagaimana asal muasal Untung menjadi seorang pendekar yang disegani oleh banyak kalangan di kemudian hari. Di fase ini terus terang saya agak merasa jenuh dengan cerita ini, saya pikir bagian cerita Untung tidak terlalu menarik unutk dibahas dengan detil oleh penulis, kalau memang jalan ceritanya hanya seputaran ini saja.
Tapi semua itu salah dan pikiran saya mulai berubah ketika Untung menjadi dewasa, ia kemudian harus menentukan pilihan hidupnya dan berani melawan rintangan pertama dalam hidupnya, menikahi Suzane, anak seorang petinggi Belanda yang juga majikannya. Dari sinilah pelarian pertama kemudian dimulai.
Untung yang sempat di penjara dan di siksa akhirnya lari menuju tanah mati, disinilah ia kemudian membangun kekuatan hingga akhirnya penyerangan pun dimulai.
Di bab tengah cerita Untung semakin pelik karena intrik politik dan cinta kemudian bercampur aduk di situ. Tidak hanya itu ia kemudian dihadapkan oleh pilihan sulit apakah ia tetap menjadi anak buah kompeni ataukah ia harus melawan mereka. Dan pilihan untuk melawan akhirnya menjadi harga mutlak bagi seorang Untung.
Pada bagian Kartasura, Untung kemudian mengalami petualangan yang hebat. Dari istana ke istana ia bertemu dengan para petinggi yang mendukungnya meski diam-diam. Gelar Surapati sendiri akhirnya didapatkan saat ia bertandang ke kraton Cirebon, hingga akhirnya nama Untung Surapati menjadi nama yang banyak diperbincangkan banyak kalangan. Dari sinilah Untung kemudian menjadi semakin dikenal hingga ke Kasusunan Kartasura.
Di sini ia kemudian membangun kekuatan dan membangun benteng di Babarong. Sayangnya semua itu tidak bertahan lama, karena ia diserang hebat oleh VOC karena pengkhianatan dari sahabatnya dan Untung akhirnya harus terusir dari Babarong. Ia kemudian lari menju Pasuruan dan membentuk kekuatan baru.
Di Pasuruan, Untung kemudian membangun kekuatan kembali dengan daerah kekuasaan yang sangat besar. Di sinilah Untung kemudian membangun pasukan dan semangat anti VOC. Sayangnya di tempat inilah Untung akhirnya harus mengakhiri keberuntungannya dan tewas saat penyerangan pasukan gabungan VOC dan Kartasura.

Kesimpulannya

Roman ini saya sangat rekomendasikan untuk dibaca karena keakuratan dari cerita ini cukup kuat. Penulis membawa kita untuk melihat sisi perjuangan Untung dan bagaimana kerasnya Untung menghadapi hidup.
Satu hal yang saya salut dari penulis, adalah kedetilannya menyelipkan tahun-tahun. Ini yang semakin menguatkan jalan cerita bahwa roman yang dibuatnya benar-benar hasil dari observasi matang menyelesaikan roman ini.
Cara penuturan dari Untung Surapati ini sangat enak dan mengalir, penulis menceritakannya dengan gaya bahasa santai dan saya yakin hampir semua kalangan bisa membaca Untung Surapati dengan jelas karena tidak ada gaya bahasa yang dominan di roman ini.
Kalau soal cover, sepertinya kita harus mengacu pada pernyataan Jangan Menilai Buku dari Covernya, karena kalau boleh jujur covernya kurang ok.
Anyway, you must read a book, coz the book it’s so high recomended for u.... :D

Senda
Ketua Komunitas Baca Buku


Senin, 16 Mei 2011

Apa yang Kau Cari, Surapati? Review Haris Firdaus (rumahmimpi.net)

Kadangkala, seorang pahlawan adalah sosok yang teramat misterius. Tindakan-tindakan dan kisah hidupnya mungkin banyak kita ketahui, tapi selalu ada hal-hal tertentu dari sosoknya yang tak pernah kita pahami. Sayangnya, seringkali yang belum kita pahami itu justru sesuatu yang mendasar, sesuatu yang membuat dia menjadi pahlawan.

Saat membaca novel Yudhi Herwibowo berjudul Untung Surapati, kepala saya selalu digedor-gedor oleh pemikiran semacam itu. Diterbitkan penerbit Metamind, Solo, pada Februari 2011 lalu, novel setebal 660 halaman itu bisa disebut sebagai roman sejarah: dia mengisahkan hampir semua sisi kehidupan Surapati yang bisa diketahui dengan pedoman sejarah yang kuat.

Yudhi menggunakan sejumlah buku untuk merujuk cerita sejarah soal Untung, seperti Babad Tanah Jawa yang dibacanya dalam tiga versi. Untuk detail lain, Yudhi juga selalu merujuk buku. soal Perang Kartasura, misalnya, ia merujuk ke Buku Terbunuhnya Kapten Tack karya de Graaf. Tentu saja, ada bagian yang rumpang, seperti masa kecil sang pahlawan, sebab tak seorang pun benar-benar tahu bagaimana Surapati lahir kemudian tumbuh besar.

Yang bisa diketahui dari Surapati kecil hanyalah dia seorang budak. Pertama kali dibeli oleh Kapitein Van Beber di Banten pada suatu hari di tahun 1600-an, Untung Surapati kemudian diserahkan pada seorang pedagang asal Belanda, Mijnheer Moor. Di rumah Mijnheer Moor inilah Surapati mendapatkan nama pertamanya: Untung. Sebelum itu, dia hanya dipanggil Si Kurus, semata-mata karena tubuhnya kerempeng.

Mijnheer Moor memperlakukan Untung dengan baik, terutama karena budak kecil itu dianggapnya membawa keberuntungan. Suzanne, anak Moor, juga suka bermain dengan Untung sampai kemudian mereka tumbuh dewasa menjadi sepasang teman, sahabat, lalu menjadi kekasih. Dan, seperti yang kemudian bisa terbaca dalam kisah hidup Surapati, Mijnheer Moor marah bukan kepalang tatkala tahu sang budak berani memacari anaknya. Untung dipenjarakan, disiksa, lalu dijatuhi hukuman mati.

Pada malam terakhir menjelang hukuman matinya, Untung berhasil meloloskan diri berkat bantuan Suzanne. Malam itu juga, Untung juga membebaskan para tahanan di penjara yang sama. Dalam waktu yang sangat cepat, dia menikahi Suzanne, tapi kemudian memutuskan mengembalikan istrinya itu ke rumah Mijnnheer Moor. Untung kemudian bergabung dengan para tahanan yang melarikan diri dan berkumpul di suatu tempat yang disebut Tanah Mati.

Di Tanah Mati inilah, kisah hidup Untung berubah drastis. Dari seorang budak penakut yang penurut pada majikannya, Untung berubah menjadi seorang pemberani yang, entah kenapa, tiba-tiba memutuskan memusuhi VOC. Saat itu, dia memang bukan lagi pemuda kurus yang penakut, tapi sudah menjelma menjadi pendekar sakti berkat berguru pada seorang pendekar lain bernama Ki Tembang Jara Driya.

Tapi, bahkan ketika telah mewarisi ilmu kanuragan dari Ki Tembang, Untung tetaplah budak Mijnheer Moor dan dia hampir tak pernah menunjukkan rasa ketidaksukaan pada VOC. Faktanya, majikan Untung adalah seorang residen VOC dan dia tampaknya nyaman-nyaman saja menjadi budak dari sosok semacam itu. Satu-satunya permusuhannya dengan VOC terjadi ketika dia memacari Suzanne dan Mijnheer Moor yang marah lalu menghukumnya.

Perlu dicatat: Untung sebenarnya tidak berurusan dengan VOC sebagai institusi, tapi hanya punya permusuhan dengan Moor yang merupakan bagian kecil dari VOC. Dan, perlu digarisbawahi lagi: sebab keduanya berselisih pun bukan sesuatu yang berkaitan dengan kekejaman dan monopoli dagang VOC di Nusantara. Sebab keduanya berselisih “hanyalah” soal cinta. Tapi justru dari perselisihan semacam itulah Surapati lalu beralih menjadi seorang musuh VOC yang sempat sangat merepotkan.

Di Tanah Mati, di antara para pelarian yang berkumpul di sana, Yudhi Herwibowo melukiskan sebuah tindakan heroik yang dilakukan Surapati. “Maka kupikir, daripada kita terus melarikan diri dan bersembunyi, kita sebaiknya bisa pula mempertahankan diri! Ini adalah tanah kita! Mereka, orang-orang asing itu, tak berhak memperlakukan kita seperti ini!” kata Untung saat itu. Sesudah sebuah proklamasi yang heroik tapi agak aneh ini, Untung menghimpun anggota baru untuk memperkuat kelompoknya, kemudian mengadakan latihan kanuragan untuk mereka.

Sesudah itu, mereka melakukan sesuatu yang tak bisa saya pahami: merampok harta orang-orang VOC. Dipandang dalam konteks sekarang, perampokan harta orang-orang VOC akan dengan mudah diterima. Tindakan itu mungkin dianggap sebagai pelampiasan kebencian terhadap orang asing, mungkin semacam nasionalisme. Tapi, waktu itu, belum ada nasionalisme, belum ada sebuah komunitas yang dibayangkan sebagai satu nation dengan Untung dan kawan-kawannya.

Saya tak habis mengerti kenapa Untung dan kelompoknya merampok orang-orang VOC. Sebab, dalam pandangan saya, Untung tak pernah benar-benar punya motivasi melakukan itu. Bukankah permusuhannya hanya dengan Mijnheer Moor? Bukankah sumber perselisihan Untung dengan Moor hanyalah Suzanne? Kenapa dia tidak merebut Suzanne, misalnya, tapi justru merampok orang-orang yang tak berkait langsung dengan Moor? Jika perampokan itu dilakukan untuk bertahan hidup, bukankah pilihannya menjadi terlalu berisiko?

Dalam novelnya, Yudhi Herwibowo melukiskan Untung sebagai orang yang tak pernah menganggap kedatangan VOC di Nusantara sebagai masalah. Oke, dia memang seorang budak, tapi tanpa VOC pun perbudakan di Nusantara kala itu pastilah tetap terjadi. Ketika menjadi budak Moor, Untung juga tampak nyaman-nyaman saja karena dia diperlakukan baik. Satu-satunya yang menjadi perhatiannya kala itu pastilah hanya soal bertahan hidup sehingga begitu dia mendapat jaminan kehidupan yang cukup baik, Untung tak perlu berpikir soal-soal lain.

Tapi, di Tanah Mati, Untung seolah-olah menjelma menjadi orang lain. Tiba-tiba dia punya gagasan memusuhi VOC, merampok harta kelompok dagang itu, menggunakan senjata-senjata VOC yang dirampasnya untuk memperkuat kelompoknya. Dari mana ide ini timbul sebenarnya? Apa alasannya? Dan, lebih penting lagi, apa sebenarnya tujuan Untung? Membebaskan Nusantara? Saya kira tidak karena gagasan merdeka dari penjajah belum timbul kala itu.

Pada titik inilah, saya menyadari betapa motivasi seseorang melakukan “perjuangan” kadangkala tak pernah jelas. Tapi bahkan tanpa motivasi yang jelas pun, “perjuangan” Untung melawan VOC berlangsung sangat lama, sampai dia harus mengungsi dari Batavia ke Kartasura, lalu ke Pasuruan. Selama pertempurannya dengan VOC, banyak pihak yang sudah dilibatkannya: dari mulai Keraton Kartasura hingga para adipati di Madura, Bangil, dan daerah-daerah lainnya. Namun, kadangkala, ketika semua pertempuran itu dihadapkan pada pertanyaan “untuk apa”, semua orang yang terlibat dalam pertempuran itu mungkin tak pernah benar-benar mengerti.

Setelah membaca novel Untung Surapati, saya kadang membayangkan: jangan-jangan Untung Surapati sendiri tak pernah mempunya tujuan yang jelas ketika dia memutuskan memusuhi VOC. Jangan-jangan, pada suatu waktu ketika permusuhan dengan VOC makin besar dan tak bisa dipadamkan, Surapati juga merasah resah dan tidak mengerti kenapa dia sampai terseret pada proses semacam itu. Dengan berpikir semacam ini, saya tidak sedang menurunkan derajat kepahlawanan Surapati yang dianugerahkan oleh pemerintah Indonesia pada 1975.

Bagi saya, kepahlawanan adalah sesuatu yang muncul dari tafsir orang-orang yang memberi gelar, bukan dari orang yang diberi. Kepahlawan juga bukan sesuatu yang beku dan selesai. Sehingga, ketika bahkan kita menganggap Untung Surapati sebagai “pahlawan nasional”, kita mungkin tak pernah benar-benar tahu apa yang dicari Surapati dari pertempuran panjangnya dengan VOC.

Jakarta, 15 Mei 2011

Haris Firdaus


sumber: http://rumahmimpi.net/2011/05/apa-yang-kau-cari-surapati/


Senin, 09 Mei 2011

Komunitas Goodreads Indonesia > Kuis Khusus Untuk GRI

Kuis......Kuis...kuis.....

Salah satu rekan kita Yudhi Herwibowo baru saja meramaikan dunia perbukuan dengan kehadiran buku terbarunya, judulnya Untung Surapati.

Nah dalam rangka berbagi kebahagian atas lahirnya "anak terbaru", maka Mas Yudhi menawarkan 3 (TIGA) buku gratis.

Caranya guampang banget!
Tulis minimal 100 karakter mengenai Untung Surapati.
Jawaban dikirim ke uyi_adi@yahoo.co.id atau inbox ke tempatku juga boleh. Paling lambat Minggu, 15 Mei 2011 pukul 08.00

Siapa tahu pemenangnya bisa langsung serah terima di WBD saat bookwar he he he

Yang penasaran, silahkan intip di http://www.goodreads.com/book/show/11334...

Selamat mengikuti kuis...............!


untuk lebih jelas bisa klik langsung disini:

http://www.goodreads.com/topic/show/550477-kuis-khusus-untuk-gri

jangan lupa juga untuk follow aku ya... ;D

Jumat, 06 Mei 2011

Video Realese Untung Surapati

Video release novel Untung Surapati, sebuah roman sejarah di YouTube

atau:

http://www.youtube.com/user/Hikozza1?feature=mhum