|| nuli bakal lair | sawijining manungsa kang linuwih, kapilih | kang miwiti uripe nyarira batur najis | nanging ing titiwancine piyambake bakal madeg raja tinresnan | kang bakal kalebu ati marang kawulane nganti salawase...

|| dan kelak akan lahir | satu manusia yang dipilih | yang mengawali kehidupannya sebagai budak hina | namun kemudian menjadi raja | yang dikenang sepanjang waktu...

Selasa, 26 April 2011

Puisi Pengantar novel Untung Surapati


nuli bakal lair

sawijining manungsa kang linuwih, kapilih

kang miwiti uripe nyarira batur najis

nanging ing titiwancine piyambake bakal madeg raja tinresnan

kang bakal kalebu ati marang kawulane nganti salawase



dan kelak akan lahir

satu manusia yang dipilih

yang mengawali kehidupannya sebagai budak hina

namun kemudian menjadi raja

yang dikenang sepanjang waktu


Puisi ini saya buat dalam bahasa Indonesia, kemudian diterjemahkan oleh Mbak Indah Darmastuti. Seharusnya saya konsepkan di halaman 3 setelah halaman judul, namun pada akhirnya puisi ini digabung dalam halaman 'Beranda Cerita'

Cover Pertama Untung Surapati

Sebelum rilis dengan cover Mas Rendra dari Tiga Serangkai, sebenarnya novel Untung Surapati pernah dirilis secara digital untuk saya bawa ke Ubud Writers and Festival 2010. Waktu itu desainernya adalah Mas Yogi dari ASDI.


Perihal Halaman 'Beranda Cerita'

Di naskah asli Untung Surapati, sebenarnya saya mecuplik sebuah kisah dari buleleng.com yang mengisahkan saat-saat hilangnya putra I Ngurah Jelantik.

Awalnya cuplikan itu saya rencanakan ada di halaman paling awal (halaman 1, sehingga halaman judul ada di halaman 3). Metode ini sering digunakan oleh beberpa penerbit. Sekedar untuk menandakan bila tulisan itu ada sedikit ‘di luar’ novel’. Namun oleh penerbit halaman tersebut kemudian di jadikan halaman ‘Beranda Cerita’

Hal ini saya lakukan karena: tak ada data masa kanak tokoh Untung Surapati. Namun sosok Untung Surapati yang berada di Banten dan Batavia, seperti ‘tiba-tiba’ saja menjadi orang Bali. Saya harus mengambil satu benang merah yang menghubungkan fakta tersebut.
Berikut petikannya;

Masih di penggalan hari di tahun 1664.
Waktu itu hari mulai gelap, dan kabut mulai bergerak merayap ke sudut-sudut malam. Ini tak seperti basanya. Tanah Bali di waktu malam tak selalu tertutup kabut. Hanya malam ini saja. Seakan-akan ada, hanya sekedar untuk menutupi iring-iringan itu.
I Gusti Ngurah Jelantik, ayah I Gusti Panji dari Puri Jelantik, wafat karena usianya lanjut. Beliau digantikan oleh putranya yang bernama I Gusti Gde Ngurah, yang tak lain adalah adik tiri I Gusti Ngurah Panji. Setelah dinobatkan, I Gusti Gde Ngurah bergelar I Gusti Ngurah Jelantik, sama dengan gelar ayahnya. Namun karena masih sangat muda, beliau kemudian dibina oleh pamannya, I Gusti Gde Pring.
Pada saat itu, Patih Dalem, I Gusti Agung Maruti sangat ambisius, dan ingin mengambil kekuasaan kerajaan Gelgel. Ia bermaksud mengambil keris pusaka I Gusti Ngurah Jelantik yang bernama Ki Pencok Sahang, yang dulu pernah dipakai mengalahkan Ki Dalem Dukut di Nusa. Tentu saja I Gusti Ngurah Jelantik menolak untuk menyerahkan keris pusaka warisan leluhurnya, yang merupakan anugrah Batara di Pura Besakih.
Karena itulah, I Gusti Agung Maruti kemudian berkali-kali mengerahkan pasukannya untuk membunuh I Gusti Ngurah Jelantik atas nama Kerajaan Gelgel. Tetapi usahanya itu selalu saja tak berhasil.
Untuk menghindari kejadian yang makin meruncing, I Gusti Ngurah Jelantik beserta pamannya, I Gusti Gde Pring, menyelamatkan diri serta keluarganya dengan mengungsi ke daerah barat bersama para pendukung setianya.
Hingga akhirnya, di malam ini, sampailah mereka di tepi sungai Ayung. Perlahan, dengan berjalan beriringan dan berpegangan tangan, mereka melalui titi gantung, sejenis jembatan dari tali, yang ada di atas sungai Ayung.
Namun setelah sampai di seberang, baru disadari bahwa putra kedua I Gusti Ngurah Jelantik telah lepas dari rombongan. I Gusti Ngurah Jelantik segera memerintahkan para pengiringnya untuk kembali dan mencari putranya yang baru berumur sekitar 4 tahun itu.
Namun usaha itu sia-sia belaka. Walau telah mencari kemana-mana, putra I Gusti Ngurah Jelantik seakan telah hilang tertelan kabut tebal. Maka dengan perasa sedih, iring-iringan pun kemudian melanjutkan perjalanan menuju Desa Marga, Mengwi.
Kelak diyakini, bocah itulah yang kemudian dikenal dengan nama Untung Surapati.

Rabu, 02 Maret 2011

Beberapa Petikan

Namun sebelum ia bereaksi apa-apa, Suzanne kembali bertanya padanya, “Apa kakak di sini… juga memikirkan aku?” tanyanya.

Untung menelan ludah. Ia ingin menjawab cepat pertanyaan itu, tapi entah mengapa bibirnya mendadak menjadi kelu.

“Hmmm, ya, tentu saja aku kerap mengingat juffrouw di sini,” ujarnya akhirnya.

“Hmm…. seberapa kerap?” tanya Suzanne lagi.

Untung kembali menelan ludahnya. Jantungnya entah mengapa mendadak berdetak lebih cepat.

“Hmmm… cukup kerap,” ujarnya berusaha membuat suaranya terdengar biasa. “Aku… sampai tak bisa menghitungnya…”

Suzanne menatap Untung dengan sinar mata tak percaya. Tanpa bisa disembunyikan lagi, senyumnya muncul di bibirnya yang tipis.

“Aku senang di sini kakak tak melupakan aku,“ ujarnya kemudian sambil tersenyum. “Ya aku senang. Karena kupikir… hmmm, kakaklah alasanku ingin cepat kembali kemari…”

- bab Cinta Terlarang


Ia telah menguasai Ajian Api Sukma. Ini merupakan ajian kuno yang telah ratusan tahun hilang di jagat kanuragan. Dimana seseorang yang menguasainya dapat mengalirkan energi panas pada seluruh tubuhnya, hingga dari pori-porinya kemudian dapat keluar asap panas.

Dan Medi Gendeng telah menguasai ajian itu dengan sempurna. Ya, sangat sempurna. Karena beberapa tahun yang lalu, ia telah menemukan rahasia yang tersembunyi di balik ajian itu, hingga tak sekedar hawa panas dan asap yang dapat keluar dari pori-porinya, tapi juga api!

- bab Pendekar yang Dapat Membakar Tubuhnya



Emban Endut mengangguk. Kali ini dengan gerakan yang lebih mantap. “Tentu saja benar. Kabar ini bukan hanya sekedar dari ucapan satu orang saja. Tapi dari banyak orang. Hampir seluruh pasukan yang mengiringi kita, sudah mendengar berita ini.”

Emban Endut menarik napas sejenak, “Maka itu Raden Ayu jangan bersedih bila ia nampak sedikit dingin, karena ia memang tengah berduka. Apalagi katanya,” emban Endut lebih berbisik lagi, ”katanya anaknya bersama perempuan asing itu, telah di bawa pergi ke Belanda.”

Raden Ayu Goesik Kusuma hanya bisa terdiam. Penjelasan dari emban Endut benar-benar tak pernah dibayangkannya. Bibirnya kini tak lagi nampak cemberut. Ekspresi wajahnya telah seperti sedia kala. Tanpa sadar, ia bahkan telah melempar pandangannya ke mana Untung tengah beristirahat bersama beberapa prajuritnya.

- bab Perempuan Bermata Bunga


Hampir seratus tahun yang lalu, pernah ada seorang pendeta Budha yang tegah mengembara ke bhumijawa, melukis langit di atas tanah Mataram dengan gambar puluhan naga. Seorang rekannya tentu saja bertanya heran, “Mengapa kau melukis begitu banyak naga?” Dan pendeta Budha itu memandang lukisannya, seakan dapat menerawang jauh ke dalam sana, “Entahlah, namun aku seperti dapat melihat akan banyak naga-naga muncul di tanah ini…”

- bab Kesunana Kartasura



Maka saat itu juga, di atas kemarahan yang memuncak, Sultan Cirebon pun segera memerintahkan pasukannya untuk menahan Raden Surapati.

Ia benar-benar merasa dipermalukan di depan tamunya. Bagaimana mungkin orang yang telah dimintai bantuan olehnya, malah diperlakukan sedemikian rupa oleh anak angkatnya sendiri? Sungguh, ini membuatnya bagai menjadi sultan yang gagal.

Maka ketika akhirnya Raden Surapati dinyatakan secara jelas bersalah telah melakukan fitnah dan berusaha membunuh tamu yang telah berjasa bagi tanah Cirebon, Sultan Cirebon pun tak segan lagi untuk memutuskan : menghukum mati anak angkatnya itu.

Tak cukup sampai di situ, sebagai bukti penyesalannya yang dalam, Sultan Cirebon kemudian menganugerahi gelar Surapati kepada Untung.

Sejak itulah Untung kemudian dikenal dengan nama Untung Surapati!

- bab Sebuah Nama; Surapati